Kembali ke Blog
Opini

Catatan Seorang Anak Muda yang Sedang Mencari Arah

admin
06 September 2026
5 min read
19 views
Article Thumbnail

Kita yang Sedang Berjalan

Ada masa ketika kita merasa sudah seharusnya mengetahui ke mana hidup akan membawa kita.

Usia bertambah. Teman-teman mulai memiliki pekerjaan, membangun karier, menikah, membeli rumah, melanjutkan pendidikan, atau menemukan sesuatu yang mereka sebut sebagai tujuan hidup.

Sementara kita masih bertanya kepada diri sendiri:

“Sebenarnya saya sedang menuju ke mana?”

Pertanyaan itu terkadang muncul ketika malam semakin sepi. Ketika pekerjaan telah selesai, percakapan dengan orang lain berhenti, dan layar ponsel tidak lagi mampu mengalihkan pikiran.

Di titik itu, kita berhadapan dengan diri sendiri.

Dan ternyata, menjadi dewasa bukan hanya tentang bertambahnya usia.

Menjadi dewasa adalah tentang belajar hidup bersama berbagai pertanyaan yang belum memiliki jawaban.


Antara Pekerjaan, Uang, Hubungan, dan Impian

Kehidupan anak muda sering terlihat sederhana dari luar.

Bangun pagi. Bekerja. Pulang. Makan. Membayar kebutuhan. Beristirahat. Kemudian mengulang semuanya keesokan hari.

Tetapi di balik rutinitas itu ada banyak hal yang sedang dipikirkan.

Tentang pekerjaan.

Apakah pekerjaan yang sedang dijalani adalah pekerjaan yang benar-benar diinginkan?

Tentang uang.

Apakah penghasilan hari ini cukup untuk membangun kehidupan yang diinginkan beberapa tahun mendatang?

Tentang keluarga.

Apakah kita sudah cukup membanggakan orang-orang yang telah membesarkan kita?

Tentang hubungan.

Apakah orang yang bersama kita sekarang akan tetap berjalan bersama ketika kehidupan berubah?

Dan tentang impian.

Apakah impian yang dulu kita bayangkan ketika masih kecil masih relevan dengan kehidupan kita sekarang?

Semakin dewasa, ternyata semakin banyak pertanyaan yang muncul.

Ironisnya, semakin banyak pertanyaan, semakin sedikit orang yang bisa memberikan jawaban pasti.

Pada akhirnya, kita harus belajar menjawabnya sendiri.


Sebenarnya Kita Sedang Mengejar Apa?

Barangkali salah satu kesalahan terbesar kita adalah terlalu sering menganggap bahwa hidup harus memiliki tujuan yang jelas sejak awal.

Kita melihat seseorang yang sudah berhasil, kemudian mengira bahwa ia telah mengetahui seluruh jalan hidupnya.

Padahal mungkin tidak.

Mungkin ia juga pernah tersesat.

Mungkin ia juga pernah salah memilih.

Mungkin ada malam ketika ia mempertanyakan keputusan yang telah dibuatnya.

Hanya saja, kita biasanya melihat hasil akhirnya.

Kita melihat seseorang mendapatkan pekerjaan bagus, tetapi tidak melihat tahun-tahun ketika ia mencari pekerjaan.

Kita melihat seseorang memiliki bisnis, tetapi tidak melihat kegagalan yang pernah membuatnya hampir menyerah.

Kita melihat seseorang bahagia dalam sebuah hubungan, tetapi tidak mengetahui berapa banyak percakapan sulit yang harus mereka lewati.

Kita melihat pencapaian.

Kita jarang melihat perjalanan.

Karena itu, mungkin pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Mengapa saya belum seperti mereka?”

Melainkan:

“Apakah jalan yang saya tempuh memang jalan yang ingin saya jalani?”


Berhenti Mengukur Hidup dengan Kehidupan Orang Lain

Media sosial membuat semuanya menjadi lebih rumit.

Setiap hari kita melihat orang lain bergerak maju.

Ada yang lulus.

Ada yang bekerja di perusahaan besar.

Ada yang pergi ke luar negeri.

Ada yang menikah.

Ada yang membeli kendaraan.

Ada yang membangun bisnis.

Ada yang mendapatkan penghargaan.

Ada yang tampaknya memiliki kehidupan sempurna.

Kemudian kita melihat kehidupan sendiri.

Dan tanpa sadar mulai bertanya:

“Kenapa saya belum sampai di sana?”

Padahal kita sedang membandingkan halaman tengah kehidupan kita dengan halaman terakhir kehidupan orang lain.

Kita tidak pernah benar-benar mengetahui apa yang terjadi di balik sebuah foto.

Kita juga tidak mengetahui harga yang harus dibayar seseorang untuk mencapai sesuatu.

Setiap manusia memiliki waktunya sendiri.

Ada yang menemukan jalannya lebih cepat.

Ada yang membutuhkan waktu lebih lama.

Ada yang harus berbelok berkali-kali.

Ada pula yang baru menemukan arah setelah tersesat cukup jauh.

Mungkin tidak ada yang salah dengan perjalanan yang lebih lambat.

Yang berbahaya justru ketika kita berhenti berjalan hanya karena merasa tertinggal.


Kita Tidak Harus Mengetahui Seluruh Jalan

Mungkin hidup memang tidak meminta kita mengetahui seluruh jalan.

Mungkin kita hanya perlu mengetahui langkah berikutnya.

Jika hari ini belum tahu ingin menjadi apa, tidak apa-apa.

Cari tahu.

Jika pekerjaan sekarang belum menjadi pekerjaan impian, tidak apa-apa.

Belajar.

Jika masih belum memiliki banyak uang, tidak apa-apa.

Bangun kemampuan.

Jika pernah gagal, tidak apa-apa.

Evaluasi.

Jika pernah salah memilih, tidak apa-apa.

Belajar memilih lagi.

Tidak semua hal harus selesai pada usia tertentu.

Tidak semua orang harus memiliki pencapaian yang sama.

Dan tidak semua perjalanan harus terlihat mengesankan bagi orang lain.

Ada perjalanan yang memang hanya perlu dimengerti oleh diri sendiri.

Barangkali tujuan hidup bukan selalu tentang menjadi seseorang yang luar biasa.

Kadang-kadang tujuan hidup jauh lebih sederhana:

menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin.


Tetap Berjalan

Pada akhirnya, mungkin kita semua sedang mencari arah.

Bahkan mereka yang terlihat sudah menemukan tujuan pun masih mungkin mengubah jalannya.

Hidup bukan peta yang sudah diberikan lengkap sejak kita lahir.

Ia lebih seperti perjalanan panjang.

Kita menemukan persimpangan.

Kita memilih.

Kadang benar.

Kadang salah.

Kadang harus kembali.

Kadang harus mengambil jalan yang sama sekali tidak pernah kita rencanakan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika kita melihat kembali perjalanan yang telah dilewati, kita akan menyadari bahwa jalan yang dulu kita anggap sebagai kesalahan ternyata membawa kita menuju sesuatu yang tidak pernah kita bayangkan.

Jadi, jika hari ini kita masih mencari arah, tidak perlu terlalu takut.

Kita tidak harus mengetahui seluruh tujuan.

Kita hanya perlu terus berjalan.

Pelan tidak masalah.

Berhenti sebentar juga tidak masalah.

Yang penting, jangan menyerahkan perjalanan hidup kepada perbandingan dengan kehidupan orang lain.

Karena pada akhirnya, hidup kita bukan perlombaan.

Ia adalah perjalanan.

Dan setiap perjalanan memiliki waktunya sendiri untuk sampai.

Bagikan Artikel Ini