Setiap pagi, ia berjalan selama sepuluh menit.
Tidak lebih.
Tidak kurang.
Sepuluh menit dari sebuah kamar yang terlalu kecil untuk menyimpan banyak impian menuju sebuah ruangan yang dipenuhi layar, huruf, warna, dan pekerjaan yang harus selesai sebelum matahari terlalu tinggi.
Ia menyukai sepuluh menit itu.
Bukan karena jaraknya dekat.
Melainkan karena di sanalah ia bisa menjadi seseorang yang tidak sedang dikejar apa-apa.
Ia berjalan.
Melewati warung yang baru membuka pintu.
Melewati seorang tua yang menyiram tanaman.
Melewati genangan air yang menyimpan potongan langit.
Kadang ia melihat wajahnya sendiri di sana.
Wajah seorang lelaki muda yang belum selesai dengan dirinya.
Di kota ini, ia belajar bahwa uang memiliki suara.
Suara itu tidak pernah keras.
Ia hanya berbisik di dalam kepala.
Ketika ingin makan.
Ketika ingin membeli sesuatu.
Ketika teman mengajak pergi.
Ketika tanggal bergeser mendekati akhir bulan.
Suara itu selalu bertanya:
Benarkah kau membutuhkan ini?
Mula-mula ia membenci pertanyaan tersebut.
Lama-lama ia menganggapnya sebagai kawan.
Sebab dari pertanyaan itulah ia belajar membedakan lapar dengan ingin, kebutuhan dengan keinginan, dan hari ini dengan hari esok.
Ia mulai menyimpan sebagian kecil dari apa yang diperolehnya.
Bukan karena ia memiliki banyak.
Justru karena ia tidak memiliki banyak.
Ia menyisihkan sedikit untuk pendidikan.
Sedikit untuk keadaan yang tidak terduga.
Sedikit untuk sesuatu yang belum memiliki nama.
Mungkin rumah.
Mungkin sebuah usaha.
Mungkin perjalanan pulang.
Atau mungkin sekadar rasa aman ketika suatu hari dunia memutuskan untuk tidak bersikap baik kepadanya.
Ia tidak tahu.
Ia hanya menabung.
Seperti seseorang yang menanam pohon meski belum tahu siapa yang kelak akan berteduh di bawahnya.
Pada suatu malam, ia menelepon rumah.
"Bagaimana di sana?"
"Baik."
"Kamu sendiri?"
Ia diam sebentar.
"Baik juga."
Ada jeda.
Jeda yang lebih panjang daripada percakapan mereka.
Di seberang sana, seseorang tertawa kecil.
"Kamu kalau ditanya selalu jawabnya baik."
Ia ikut tertawa.
"Memang baik."
Ia tidak mengatakan bahwa beberapa hari terakhir ia sedang menghitung isi dompet.
Tidak mengatakan bahwa ada kebutuhan yang sengaja ditunda.
Tidak mengatakan bahwa ia pernah mematikan layar telepon hanya karena tidak ingin seseorang di rumah mendengar suara lelahnya.
Ada hal-hal yang sengaja disimpan oleh orang-orang yang sedang merantau.
Bukan karena tidak percaya kepada rumah.
Justru karena terlalu mencintainya.
"Awas sakit," suara itu berkata.
"Iya."
"Jangan lupa makan."
"Iya."
"Kalau kurang, bilang."
Ia menunduk.
"Iya."
Setelah panggilan berakhir, ia duduk lama di tepi kasur.
Kamar kembali menjadi sunyi.
Ia memandangi langit-langit.
Lalu berkata kepada dirinya sendiri:
"Aku akan baik-baik saja."
Kalimat itu terdengar seperti doa.
Ia bekerja dengan gambar.
Mengatur warna.
Memindahkan huruf.
Merapikan ruang kosong.
Menghidupkan sesuatu yang sebelumnya hanya berupa gagasan.
Orang-orang melihat hasil akhirnya.
Mereka tidak melihat malam-malam ketika matanya merah.
Tidak melihat cangkir yang dibiarkan dingin.
Tidak melihat revisi yang datang ketika ia mengira pekerjaan telah selesai.
Tidak melihat bagaimana sebuah desain yang selesai kadang hanya berarti satu hal:
ia bisa tidur sedikit lebih tenang malam ini.
Barangkali begitulah sebagian besar perjuangan.
Yang terlihat hanyalah hasil.
Yang tidak terlihat adalah harga yang dibayar untuk mencapainya.
Suatu sore, sebuah pekerjaan datang terlambat.
Komputer yang dipakainya tiba-tiba mati.
Layar menjadi hitam.
Ia menekan tombol daya.
Sekali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tidak ada apa-apa.
Hanya pantulan wajahnya sendiri.
Ia menatap layar itu.
Untuk sesaat, ia merasa sedang melihat hidupnya.
Hitam.
Diam.
Tidak memberikan jawaban.
Ia mengambil napas panjang.
Kemudian mencari pertolongan.
Seorang teman datang.
"Mengapa tidak bilang dari tadi?"
"Aku kira bisa diperbaiki sendiri."
Temannya menggeleng.
"Kamu ini."
Mereka tertawa kecil.
Tidak ada solusi yang benar-benar besar malam itu.
Hanya sebuah komputer pinjaman.
Sebuah meja.
Dua gelas minuman.
Dan pekerjaan yang akhirnya selesai menjelang dini hari.
Namun, ketika temannya hendak pulang, ia berkata,
"Terima kasih."
Temannya mengangkat bahu.
"Besok kalau aku susah, kamu juga harus bantu."
Ia tersenyum.
"Janji."
Malam itu ia mengerti sesuatu.
Tidak semua pertolongan datang dalam bentuk uang.
Kadang ia datang sebagai seseorang yang bersedia duduk di sebelahmu ketika hidup sedang terlalu gelap untuk dilalui sendirian.
Setelah itu, ia mulai menerima pekerjaan kecil.
Tidak banyak.
Kadang ada.
Kadang tidak.
Ada hari ketika hasil kerjanya cukup untuk membuatnya tersenyum.
Ada pula hari ketika tidak ada satu pun pesan masuk.
Ia tetap membuka komputer.
Tetap belajar.
Tetap membuat sesuatu.
Sebab ia mulai memahami bahwa keterampilan adalah sejenis tabungan yang tidak bisa dicuri oleh tanggal tua.
Semakin sering digunakan, semakin ia bertambah.
Maka ia menabung bukan hanya uang.
Ia menabung kemampuan.
Menabung pengalaman.
Menabung keberanian.
Menabung kegagalan.
Kelak, ia percaya, semua itu akan menjadi sesuatu.
Entah apa.
Tetapi sesuatu.
Ada malam-malam ketika ia rindu.
Rindu pada jalan yang dulu dikenalnya.
Rindu pada suara-suara yang tidak perlu ia dengarkan melalui pengeras suara telepon.
Rindu pada makanan yang rasanya tidak pernah sama ketika dimakan jauh dari rumah.
Rindu pada masa ketika ia belum perlu memikirkan besok akan menjadi apa.
Di perantauan, rindu adalah benda yang aneh.
Ia tidak memiliki bentuk.
Tidak bisa ditimbang.
Tidak bisa dibayar.
Tetapi bisa membuat sebuah kamar yang kecil terasa jauh lebih kecil.
Pada malam seperti itu, ia membuka galeri foto.
Ada rumah.
Ada wajah-wajah yang dikenalnya sejak sebelum ia mengenal dirinya sendiri.
Ia tersenyum.
Kemudian mematikan layar.
Belum.
Ia belum ingin pulang.
Bukan karena tidak rindu.
Justru karena terlalu rindu.
Ia ingin suatu hari pulang membawa sesuatu selain pakaian kotor dan cerita tentang betapa melelahkannya kota.
Ia ingin membawa kabar baik.
Meski kabar baik itu mungkin sederhana:
"Aku berhasil melewati semuanya."
Waktu bergerak tanpa menunggu siapa pun.
Bulan berganti.
Kamar tetap sama.
Jalan tetap sama.
Sepuluh menit tetap sepuluh menit.
Tetapi orang yang berjalan di dalamnya perlahan berubah.
Ia mulai tidak takut pada akhir bulan.
Ia mulai tidak terlalu marah pada keadaan.
Ia mulai mengerti bahwa hidup tidak pernah berjanji akan menjadi mudah.
Yang diberikan hidup hanyalah kesempatan untuk menjadi lebih kuat daripada kemarin.
Pada suatu pagi, ketika matahari baru saja muncul di antara bangunan, ia berjalan lebih pelan dari biasanya.
Ada seekor burung di kabel listrik.
Ada penjual sarapan yang sedang mengangkat tirai warung.
Ada aroma tanah yang masih menyimpan sisa hujan.
Semuanya biasa.
Namun, pagi itu ia merasa seperti sedang melihat sesuatu untuk pertama kalinya.
Ia berhenti di depan sebuah kaca.
Bayangannya muncul.
Ia memperhatikannya lama.
Kemudian tersenyum.
"Masih di sini?"
Tidak ada jawaban.
Tetapi ia tahu.
Ia masih di sini.
Masih bekerja.
Masih belajar.
Masih berusaha.
Masih menyimpan sedikit demi sedikit.
Masih bermimpi, meski mimpi itu belum menunjukkan wajahnya.
Ia kembali berjalan.
Kelak, mungkin ia akan lupa berapa banyak malam yang pernah dilewatinya dengan mata terbuka.
Mungkin ia akan lupa berapa kali ia menolak keinginan.
Mungkin ia akan lupa berapa banyak pekerjaan kecil yang pernah dikerjakannya.
Mungkin ia bahkan akan lupa rasa takut yang pernah begitu dekat dengan dadanya.
Tetapi ia berharap tidak pernah lupa pada jalan ini.
Jalan sepanjang sepuluh menit.
Jalan yang setiap pagi mengajarinya bahwa jarak tidak selalu harus ditempuh dengan kendaraan.
Bahwa sesuatu yang jauh dapat didekati sedikit demi sedikit.
Bahwa mimpi tidak selalu datang dengan suara gemuruh.
Kadang ia datang seperti fajar:
pelan,
hampir tidak terdengar,
tetapi perlahan mengubah warna langit.
Pada akhirnya, ia tidak tahu apakah dirinya sedang mengejar masa depan atau sedang dikejar olehnya.
Ia hanya tahu bahwa pagi akan datang lagi.
Dan ketika pagi datang, ia akan bangun.
Merapikan tempat tidur.
Membasuh wajah.
Mengenakan pakaian.
Mengambil tas.
Mengunci pintu.
Lalu berjalan.
Sepuluh menit.
Sepuluh menit yang tampak kecil bagi dunia.
Tetapi di dalam sepuluh menit itu, ia membawa seluruh hidupnya:
rumah yang dirindukan,
pendidikan yang ingin diselesaikan,
pekerjaan yang ingin dikuasai,
uang yang harus dijaga,
ketakutan yang harus ditaklukkan,
dan sebuah masa depan yang masih berupa garis samar di kejauhan.
Ia berjalan tanpa tahu kapan akan sampai.
Barangkali memang tidak perlu tahu.
Sebab beberapa perjalanan tidak diciptakan untuk segera sampai.
Beberapa perjalanan hanya meminta kita untuk terus berjalan.
Dan ia pun berjalan.
Sebab sekarang ia tahu:
yang membuat seseorang sampai bukanlah panjang pendeknya jalan, melainkan kesediaannya untuk mengambil langkah berikutnya.
Pagi itu, sepuluh menit kembali berlalu.
Dan tanpa disadarinya,
ia telah berjalan sedikit lebih dekat
kepada kehidupan
yang selama ini diam-diam ia doakan.