Kembali ke Blog
Opini

Ketika Cita-Cita tentang NU Tumbuh Sejak Usia Sembilan Tahun

admin
30 August 2026
15 min read
37 views
Article Thumbnail

Barangkali tulisan ini tidak lebih dari sebuah catatan perjalanan yang terlalu personal untuk disebut sebagai gagasan besar. Saya tidak sedang menulis untuk merasa paling memahami Nahdlatul Ulama. Saya juga tidak sedang ingin mengajari siapa pun tentang bagaimana seharusnya NU berjalan.

Saya hanya ingin bercerita tentang sebuah nama, sebuah organisasi, sebuah perjalanan, dan sebuah cita-cita yang ternyata telah tumbuh jauh sebelum saya memahami apa arti organisasi.

Sebab, bagi saya, kecintaan kepada Nahdlatul Ulama tidak dimulai ketika saya masuk IPNU.

Tidak pula dimulai ketika saya menerima amanah sebagai Ketua PAC IPNU Karanganyar.

Kecintaan itu, dalam bentuk yang sangat sederhana dan mungkin sedikit lucu, sudah muncul ketika saya masih berusia sekitar sembilan tahun.

Saat itu, saya masih anak-anak.

Masih berada pada masa ketika istilah alay mungkin lebih tepat untuk menggambarkan cara berpikir dan berekspresi saya.

Sekitar tahun 2012, ketika anak-anak seusia saya di desa belum banyak yang memiliki akun Facebook, saya justru sudah membuat akun Facebook sendiri.

Dan nama akun itu adalah:

Fatkhul Pendiri NU.

Kalau mengingatnya sekarang, saya sendiri terkadang tersenyum.

Seorang anak berusia sembilan tahun, belum memahami sejarah NU secara utuh, belum memahami struktur organisasi, belum memahami khittah, belum memahami fikrah, apalagi memahami bagaimana rumitnya mengelola sebuah jam’iyah sebesar Nahdlatul Ulama—tetapi sudah berani menamakan dirinya Pendiri NU.

Beberapa waktu kemudian, ketika nalar mulai tumbuh dan saya mulai menyadari bahwa nama tersebut tentu saja keliru, saya menggantinya menjadi:

Fatkhul Pemimpin NU.

Hari ini, kalau dipikir-pikir, mungkin sama lucunya.

Tetapi di balik kelucuan itu, ada sesuatu yang mungkin baru saya pahami setelah dewasa.

Sejak kecil, saya sudah memiliki sebuah imajinasi tentang NU.

Bukan imajinasi tentang jabatan.

Bukan tentang siapa yang menjadi ketua.

Bukan tentang struktur organisasi.

Melainkan sebuah bayangan sederhana bahwa NU adalah sesuatu yang besar, mulia, dan layak untuk dicintai.

Sayangnya, akun Facebook itu sekarang sudah tidak aktif dan telah terhapus.

Tetapi mungkin justru itulah yang membuat saya semakin menyadari bahwa tidak semua jejak kehidupan harus tersimpan di internet untuk menjadi bagian dari perjalanan seseorang.

Ada beberapa hal yang hilang dari internet, tetapi tetap tinggal dalam ingatan.

Dan bagi saya, salah satunya adalah nama akun Facebook seorang anak kecil:

Fatkhul Pendiri NU.


Saya Mengenal NU dari Sholawat

Menariknya, saya tidak pertama kali mengenal NU melalui buku tentang sejarah Nahdlatul Ulama.

Saya tidak mengenalnya melalui AD/ART.

Saya juga tidak mengenalnya melalui diskusi tentang politik organisasi.

Saya mengenal NU melalui sesuatu yang sangat dekat dengan masyarakat:

sholawat.

Sekitar tahun 2012, ketika masih berusia sembilan tahun, saya mengenal Habib Syekh bin Abdul Qodir Assegaf melalui kegiatan sholawatan yang ketika itu hadir di Karanganyar, Purbalingga.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh GP Ansor Karanganyar.

Bagi seorang anak kecil, pengalaman itu tentu saja bukan sebuah pelajaran organisasi.

Saya hanya melihat orang berkumpul.

Saya mendengar sholawat.

Saya melihat orang berdzikir.

Saya merasakan suasana kebersamaan.

Dan dari sana, pemahaman saya tentang NU mulai terbentuk dengan cara yang sangat sederhana.

Oh, NU itu sholawatan.

Oh, NU itu dzikiran.

Oh, NU itu tahlilan.

Oh, NU itu masyarakat yang berkumpul dan bersholawat bersama.

Tentu pemahaman itu sangat sederhana.

Bahkan mungkin terlalu sederhana.

Namun begitulah cara seorang anak mengenal dunia.

Kita tidak selalu mengenal sesuatu melalui definisi.

Terkadang kita mengenalnya melalui pengalaman.

Dan pengalaman itulah yang kemudian perlahan berubah menjadi pemahaman.

Bertahun-tahun kemudian, saya baru menyadari bahwa apa yang saya lihat ketika berusia sembilan tahun hanyalah sebagian kecil dari wajah Nahdlatul Ulama.

NU ternyata jauh lebih luas.

Ada pendidikan.

Ada pesantren.

Ada dakwah.

Ada ekonomi.

Ada kesehatan.

Ada kebudayaan.

Ada perjuangan kebangsaan.

Ada kaderisasi.

Ada intelektualitas.

Ada politik kebangsaan.

Ada tradisi.

Ada perubahan.

Dan tentu saja, ada berbagai macam dinamika manusia di dalamnya.

Tetapi mungkin saya harus berterima kasih kepada pengalaman masa kecil itu.

Karena melalui sholawat, saya pertama kali merasa bahwa NU adalah sesuatu yang dekat.

Bukan sesuatu yang jauh dan menakutkan.


Dari Rumah, Saya Melihat NU Semakin Dekat

Waktu berjalan.

Saya tumbuh.

Pemahaman saya tentang NU pun perlahan berubah.

Keluarga saya kemudian semakin dekat dengan aktivitas organisasi.

Bapak saya masuk dalam struktural GP Ansor dan NU.

Ibu saya berkhidmat melalui Fatayat dan Muslimat.

Dan saya kemudian menyadari sesuatu:

NU bukan hanya sesuatu yang saya lihat dari kejauhan.

NU ternyata juga hadir di dalam rumah saya.

Ada pembicaraan tentang organisasi.

Ada kegiatan.

Ada rapat.

Ada persoalan.

Ada kesibukan.

Ada kebahagiaan.

Ada juga mungkin kelelahan.

Dari sana saya mulai memahami bahwa organisasi bukan hanya panggung ketika seseorang berdiri dan memberikan sambutan.

Di balik satu kegiatan yang terlihat sederhana, ada banyak orang yang bekerja.

Di balik satu keputusan, ada banyak pertimbangan.

Di balik sebuah struktur, ada manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya.

Dan semakin dewasa saya, semakin saya menyadari bahwa mencintai organisasi ternyata jauh lebih mudah ketika organisasi itu terlihat dari kejauhan.

Tetapi mencintai organisasi ketika kita sudah masuk ke dalamnya adalah perkara yang berbeda.

Karena dari dalam, kita mulai melihat kekurangannya.

Kita mulai melihat perbedaan pendapat.

Kita mulai menemukan ego.

Kita mulai menemukan kepentingan.

Kita mulai melihat konflik.

Kita mulai melihat bagaimana idealisme bertemu dengan kenyataan.

Dan di situlah cinta kepada organisasi diuji.


Saya Masuk IPNU

Sekitar tahun 2019, perjalanan saya kemudian mempertemukan saya dengan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama.

Saya dikenalkan kepada IPNU oleh dua orang yang sampai hari ini menjadi bagian penting dari cerita perjalanan tersebut:

Rekan Nur Rofiq Jailani dan Rekanita Usi Latifah.

Ada sesuatu yang menarik dari perjalanan kami bertiga.

Kami kemudian menjadi bagian dari sebuah estafet kepemimpinan di PAC IPNU-IPPNU Karanganyar.

Nur Rofiq Jailani menjadi Ketua PAC IPNU Karanganyar periode 2019–2021.

Kemudian Usi Latifah menjadi Ketua PAC IPPNU Karanganyar periode 2021–2023.

Dan setelah itu, saya dipercaya menjadi Ketua PAC IPNU Karanganyar periode 2024–2026.

Kalau melihatnya sekarang, perjalanan itu terasa seperti sebuah estafet.

Satu orang berlari.

Kemudian menyerahkan tongkat.

Orang berikutnya melanjutkan.

Kemudian tongkat itu kembali berpindah.

Dan pada akhirnya, kita menyadari bahwa dalam organisasi, yang seharusnya menjadi penting bukan siapa yang memegang tongkat paling lama.

Tetapi apakah tongkat itu berhasil kita serahkan dalam keadaan lebih baik daripada ketika kita menerimanya.

IPNU mengajarkan kepada saya bahwa organisasi bukan sekadar tentang posisi.

Organisasi adalah ruang belajar.

Belajar berbicara.

Belajar mendengarkan.

Belajar memimpin.

Belajar dipimpin.

Belajar menyusun program.

Belajar menghadapi konflik.

Belajar menerima kritik.

Belajar meminta maaf.

Belajar mengakui kesalahan.

Dan yang tidak kalah penting:

belajar bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai dengan keinginan kita.


Dari Anak yang Ingin Menjadi Pemimpin NU

Ada satu hal yang menarik ketika saya mengingat kembali nama Facebook saya saat berusia sembilan tahun.

Fatkhul Pemimpin NU.

Dulu saya mungkin menulisnya tanpa memahami konsekuensinya.

Sekarang saya justru semakin memahami bahwa menjadi pemimpin NU bukanlah perkara sederhana.

Bahkan semakin saya mengenal NU, semakin saya merasa bahwa menjadi pemimpin adalah sesuatu yang harus ditakuti dalam arti yang positif.

Karena pemimpin bukan sekadar orang yang berada paling depan.

Pemimpin adalah orang yang menerima beban lebih banyak.

Ia harus mampu mendengar suara yang berbeda.

Ia harus mampu menahan diri.

Ia harus mampu menjaga persatuan.

Ia harus mampu membedakan antara kritik dan kebencian.

Ia harus mampu membedakan antara loyalitas dan fanatisme.

Dan yang paling penting, ia harus mampu mengingat bahwa jabatan adalah sementara.

Hari ini seseorang berada di struktur.

Besok mungkin sudah tidak.

Hari ini seseorang mendapatkan amanah.

Besok amanah itu berpindah.

Tetapi organisasi harus tetap hidup.

Maka cita-cita saya terhadap NU hari ini justru jauh berbeda dengan cita-cita anak berusia sembilan tahun.

Dulu saya ingin menjadi Pemimpin NU.

Hari ini saya ingin menjadi bagian dari generasi yang membuat NU tetap layak dicintai oleh anak-anak sembilan tahun berikutnya.


Ketika Saya Mulai Melihat Sisi Lain NU

Semakin lama berada di organisasi, semakin banyak hal yang saya lihat.

Ada hal-hal yang membuat saya bangga.

Tetapi ada pula hal-hal yang membuat saya kecewa.

Ada dinamika organisasi.

Ada perbedaan pandangan.

Ada perbedaan kepentingan.

Ada orang-orang yang berdebat karena merasa sama-sama ingin memperbaiki NU.

Tetapi ada pula keadaan ketika perbedaan mulai berubah menjadi permusuhan.

Inilah bagian yang terkadang membuat hati saya berat.

Dulu, ketika masih kecil, saya melihat NU sebagai organisasi yang begitu mulia.

Dalam bayangan seorang anak, NU adalah organisasi besar, memiliki banyak pengikut, memiliki tradisi yang kuat, dan menjadi rumah bagi begitu banyak orang.

Tetapi ketika saya semakin dewasa dan masuk ke dalam dinamika organisasi, saya mulai melihat bahwa rumah besar ini juga memiliki persoalan.

Ada orang yang saling mencurigai.

Ada orang yang mudah terprovokasi.

Ada orang yang lebih sibuk memperdebatkan siapa yang paling NU daripada memikirkan apa yang bisa dilakukan untuk masyarakat.

Ada pula orang-orang yang dengan sengaja berusaha mengadu domba, menjelek-jelekkan, atau memperbesar perbedaan di antara warga NU.

Hal seperti itu tentu membuat saya kesal.

Kadang juga membuat saya bertanya:

Apakah NU yang saya kenal ketika berusia sembilan tahun masih ada?

Lalu saya berpikir kembali.

Mungkin jawabannya:

masih.

NU itu masih ada.

Hanya saja sekarang saya melihatnya dengan mata yang berbeda.

Dulu saya melihat NU sebagai seorang anak.

Sekarang saya melihat NU sebagai seorang kader.

Dulu saya hanya melihat panggungnya.

Sekarang saya mulai melihat bagaimana panggung itu dibangun.

Dulu saya hanya menikmati sholawatnya.

Sekarang saya memahami bahwa di balik sholawat itu ada orang-orang yang bekerja.

Dan ternyata, rumah sebesar NU memang tidak mungkin selalu sempurna.


Saya Tidak Ingin NU Menjadi Rumah yang Saling Mencurigai

Saya tidak berharap NU menjadi organisasi yang tidak pernah memiliki konflik.

Itu tidak realistis.

Selama ada manusia, akan selalu ada perbedaan.

Selama ada gagasan, akan selalu ada perdebatan.

Selama ada kepemimpinan, akan selalu ada kompetisi.

Tetapi saya berharap NU memiliki kemampuan untuk mengelola perbedaan tanpa kehilangan persaudaraan.

Saya ingin melihat kader NU berani berbeda pendapat tanpa harus saling membenci.

Saya ingin melihat kritik menjadi budaya perbaikan, bukan alat untuk menjatuhkan.

Saya ingin melihat kontestasi kepemimpinan berhenti ketika mandat telah diberikan.

Saya ingin melihat mereka yang kalah tetap menjadi bagian dari perjuangan.

Dan mereka yang menang tidak menjadikan kemenangan sebagai alasan untuk merendahkan yang berbeda.

Sebab NU terlalu besar untuk hanya menjadi arena perebutan posisi.

NU terlalu panjang sejarahnya untuk dipersempit menjadi persoalan siapa mendapatkan jabatan.

Dan NU terlalu banyak memiliki kader untuk dibiarkan habis energinya hanya karena konflik internal.


Saya Ingin Generasi Muda Mempunyai Alasan untuk Tetap Tinggal

Sebagai kader muda, saya memiliki kegelisahan lain.

Saya ingin anak-anak muda tetap menemukan alasan untuk berada di NU.

Bukan karena orang tua mereka memaksa.

Bukan semata-mata karena tradisi keluarga.

Bukan karena mendapatkan jabatan.

Bukan karena membutuhkan jaringan.

Tetapi karena mereka benar-benar merasa:

“Saya punya tempat di sini.”

Saya ingin seorang anak muda yang menyukai teknologi merasa bahwa NU adalah rumahnya.

Anak muda yang menyukai desain merasa memiliki ruang.

Yang menyukai pendidikan memiliki ruang.

Yang menyukai seni memiliki ruang.

Yang menyukai olahraga memiliki ruang.

Yang tertarik pada ekonomi memiliki ruang.

Yang ingin menjadi akademisi memiliki ruang.

Yang ingin menjadi pengusaha memiliki ruang.

Yang aktif di media sosial memiliki ruang.

Yang ingin menjadi aktivis sosial memiliki ruang.

Yang ingin belajar agama secara mendalam juga memiliki ruang.

Karena generasi muda NU hari ini tidak hidup dalam dunia yang sama dengan generasi sebelumnya.

Mereka hidup dalam dunia digital.

Mereka menemukan informasi melalui Google.

Mereka berdiskusi melalui media sosial.

Mereka belajar melalui internet.

Mereka bertemu dengan berbagai pemikiran.

Mereka bahkan mulai berinteraksi dengan kecerdasan buatan.

Maka NU juga harus mampu hadir di ruang-ruang tersebut.

Bukan dengan meninggalkan tradisi.

Tetapi dengan membawa nilai-nilai tradisi ke masa depan.


NU Harus Tetap Berakar, Tetapi Tidak Boleh Takut Bertumbuh

Bagi saya, menjadi modern tidak berarti meninggalkan tradisi.

Begitu pula menjaga tradisi tidak berarti harus menolak perubahan.

Justru salah satu kekuatan NU adalah kemampuannya untuk bertahan melewati zaman.

Dunia berubah.

Teknologi berubah.

Cara manusia berkomunikasi berubah.

Cara anak muda belajar berubah.

Tetapi nilai-nilai yang baik tidak harus ikut hilang.

Yang perlu berubah mungkin cara kita menyampaikannya.

Kita bisa tetap tahlilan.

Tetapi anak muda juga perlu diajak memahami makna di balik tahlilan.

Kita bisa tetap bersholawat.

Tetapi anak muda juga perlu mendapatkan ruang untuk berkarya.

Kita bisa tetap menjaga pesantren.

Tetapi pesantren juga harus mampu berbicara dengan dunia digital.

Kita bisa tetap menjaga warisan para ulama.

Tetapi kita juga harus berani mempersiapkan ulama dan kader yang mampu menjawab persoalan zaman yang belum pernah dihadapi generasi sebelumnya.

Bagi saya:

tradisi adalah akar, bukan rantai.

Akar membuat kita tidak tercerabut.

Tetapi pohon tetap harus tumbuh.


Saya Tetap Bangga Menjadi Orang NU

Saya tidak ingin berpura-pura bahwa saya tidak pernah kecewa.

Saya pernah kesal.

Saya pernah bingung.

Saya pernah melihat sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan.

Saya mungkin akan terus menemukan hal-hal semacam itu selama berada di organisasi.

Tetapi saya tidak ingin kekecewaan terhadap manusia membuat saya kehilangan kecintaan terhadap nilai yang saya yakini.

Sebab NU bukan satu orang.

NU bukan satu ketua.

NU bukan satu pengurus.

NU bukan satu periode kepengurusan.

NU bukan satu forum.

NU adalah perjalanan panjang yang dibangun oleh begitu banyak orang sebelum kita lahir.

Ada ulama.

Ada kiai.

Ada santri.

Ada guru.

Ada petani.

Ada pedagang.

Ada ibu-ibu.

Ada pemuda.

Ada masyarakat biasa.

Ada orang-orang yang namanya tidak pernah kita kenal, tetapi pengabdiannya ikut membuat NU bertahan sampai hari ini.

Maka saya tidak ingin menjadi generasi yang hanya menikmati warisan itu.

Saya ingin menjadi bagian dari generasi yang ikut menjaganya.


Dari “Fatkhul Pendiri NU” Menjadi Fatkhul yang Belajar Berkhidmat

Kadang saya berpikir, lucu juga perjalanan nama itu.

Ketika umur sembilan tahun:

Fatkhul Pendiri NU.

Kemudian berubah menjadi:

Fatkhul Pemimpin NU.

Sekarang, setelah melewati perjalanan yang lebih panjang, saya justru merasa bahwa dua nama itu sama-sama terlalu besar untuk saya.

Saya bukan pendiri NU.

Jelas.

Dan saya juga belum tahu apakah kelak akan menjadi pemimpin NU atau tidak.

Itu bukan sesuatu yang perlu saya kejar hari ini.

Hari ini saya hanya ingin menjadi:

Fatkhul yang belajar berkhidmat.

Belajar menjadi kader yang baik.

Belajar menjalankan amanah.

Belajar menghargai perbedaan.

Belajar menjaga tradisi.

Belajar menerima perubahan.

Belajar mendengarkan.

Belajar bekerja.

Dan kalau suatu hari nanti ada anak muda yang bertanya kepada saya tentang NU, saya ingin bisa menjawab bukan hanya dengan cerita tentang masa lalu.

Saya ingin bisa menunjukkan apa yang telah kami kerjakan.


Karena Saya Masih Ingin Menjadi Bagian dari Rumah Ini

Pada akhirnya, tulisan ini bukanlah kritik kepada satu orang.

Bukan pula dukungan kepada satu kelompok.

Ini hanyalah kegelisahan sekaligus kecintaan seorang kader muda.

Saya menulisnya karena saya masih peduli.

Saya masih memiliki harapan.

Saya masih ingin NU menjadi rumah besar.

Dan mungkin memang begitu seharusnya cinta bekerja.

Cinta bukan berarti mengatakan bahwa sesuatu selalu benar.

Cinta juga bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan.

Justru karena mencintai, kita berani mengakui bahwa ada hal-hal yang perlu diperbaiki.

Tetapi memperbaiki tidak harus dengan membakar rumah.

Mengkritik tidak harus dengan menghancurkan persaudaraan.

Berbeda tidak harus berarti bermusuhan.

Dan menang tidak harus berarti membuat yang lain merasa kalah.


Sebuah Catatan untuk Anak Usia Sembilan Tahun

Kalau suatu hari saya bisa bertemu kembali dengan diri saya ketika berusia sembilan tahun, mungkin saya ingin mengatakan sesuatu kepadanya.

“Khul, kamu dulu pernah menulis nama Fatkhul Pendiri NU di Facebook.”

Mungkin dia akan tertawa.

Kemudian saya akan berkata:

“Kamu dulu ingin menjadi Pemimpin NU.”

Mungkin dia akan semakin bangga.

Tetapi saya ingin mengatakan satu hal lagi:

“Tidak perlu terburu-buru menjadi pemimpin.”

“Belajarlah menjadi orang yang bisa dipercaya.”

“Belajarlah menjadi orang yang bisa menjaga amanah.”

“Belajarlah menghormati orang yang berbeda.”

“Belajarlah mencintai NU bukan hanya ketika NU terlihat indah, tetapi juga ketika kamu melihat kekurangannya.”

Dan saya ingin mengatakan kepadanya:

“Kalau nanti kamu sudah dewasa, jangan biarkan kekurangan orang-orang di dalam NU membuatmu berhenti mencintai nilai-nilai yang membuatmu mengenal NU sejak kecil.”

Sebab ternyata, setelah bertahun-tahun berjalan, saya baru memahami satu hal.

Saya tidak harus menjadi pendiri NU.

Saya tidak harus menjadi pemimpin NU.

Saya bahkan tidak tahu akan menjadi apa saya kelak.

Tetapi saya ingin memastikan bahwa selama saya berada di dalam perjalanan ini, saya pernah memberikan sesuatu yang baik.

Sekecil apa pun.

Sebagai kader.

Sebagai anak muda.

Sebagai bagian dari keluarga besar Nahdlatul Ulama.


Penutup: NU yang Ingin Saya Wariskan

Saya tidak tahu seperti apa NU dua puluh, tiga puluh, atau lima puluh tahun lagi.

Tetapi saya berharap ketika generasi saya sudah tidak lagi berada di dalam struktur, anak-anak muda yang datang setelah kami masih dapat merasakan kebanggaan yang sama ketika menyebut:

“Saya orang NU.”

Saya ingin mereka tetap bisa bersholawat.

Tetap bisa bertahlilan.

Tetap bisa berdzikir.

Tetap mencintai pesantren.

Tetap menghormati ulama.

Tetapi pada saat yang sama mereka juga mampu menguasai teknologi, berpikir kritis, menghasilkan karya, mengembangkan ekonomi, menguasai ilmu pengetahuan, menjaga demokrasi, merawat kebangsaan, dan menjawab tantangan zaman.

Saya ingin NU tetap berakar kuat pada tradisi, tetapi cabang-cabangnya mampu menaungi generasi masa depan.

Dan jika suatu hari nanti ada seorang anak berusia sembilan tahun yang membuat akun media sosial lalu menulis sesuatu tentang NU karena begitu cintanya kepada organisasi ini, saya berharap ia tidak hanya menemukan cerita tentang konflik dan perebutan jabatan.

Saya berharap ia menemukan cerita tentang pengabdian.

Tentang ulama.

Tentang santri.

Tentang kader.

Tentang pendidikan.

Tentang kemanusiaan.

Tentang persaudaraan.

Tentang orang-orang yang berbeda tetapi memilih untuk tetap berjalan bersama.

Karena pada akhirnya, mungkin itulah cita-cita saya yang paling sederhana:

Saya ingin NU tetap menjadi rumah yang layak dicintai.

Rumah yang tidak sempurna, tetapi mau terus memperbaiki diri.

Rumah yang besar, tetapi tidak membuat penghuninya saling mengecilkan.

Rumah yang memiliki banyak kamar, tetapi tetap memiliki satu halaman tempat semua orang bisa berkumpul.

Rumah yang menjaga warisan masa lalu, tetapi tidak takut membuka pintu menuju masa depan.

Dan rumah yang ketika suatu hari nanti saya kembali melihat diri saya sebagai anak berusia sembilan tahun, saya bisa berkata kepadanya:

“Ternyata, cita-citamu tentang NU tidak sia-sia.”

Bukan karena saya menjadi pendiri.

Bukan karena saya menjadi pemimpin.

Tetapi karena saya pernah ikut menjaganya.

Dari seorang anak yang dulu ingin menjadi “Fatkhul Pemimpin NU”, untuk seorang kader yang hari ini hanya ingin belajar berkhidmat.

Salam ta’dzim.

Fatkhul Fahmi Zain

Sekretaris PC IPNU Purbalingga

Bagikan Artikel Ini