September datang tanpa banyak suara,
membawa sisa kemarau yang masih melekat
pada debu trotoar, genteng tua, dan napas jalanan.
Lalu dari kejauhan, tanah mulai mengirimkan kabar—
aroma basah yang pelan-pelan naik dari bumi,
seperti kenangan yang lama disimpan
akhirnya menemukan jalan pulang.
Di sudut kota, waktu terasa seperti foto yang tak selesai dicetak.
Ada gang yang masih menyimpan langkah masa lalu,
dinding yang diam-diam mengingat wajah-wajah
yang kini sibuk mengejar tahun 2026.
Sementara layar gawai terus menyala,
notifikasi datang lebih cepat daripada rindu,
dan malam bergerak tanpa sempat menoleh
pada siapa yang tertinggal di belakangnya.
Di Depok, Sleman, neon kedai kopi dua puluh empat jam
mengambang di antara suara mesin dan klakson.
Di sela bising lalu lintas,
entah dari mana, gamelan terdengar sayup—
seperti suara leluhur yang tak ingin benar-benar pergi.
Bayangan Tugu memanjang di kaca-kaca gedung,
sementara dinding-dinding tua Mataram
tetap menyimpan kesunyian yang lebih panjang
daripada umur jalan yang terus diperlebar.
Mungkin begitulah Yogyakarta membaca perubahan:
tidak dengan menolak,
melainkan membiarkan masa lalu dan masa depan
duduk sebentar di bangku yang sama.
Keris bertemu layar sentuh,
langgam lama bersisian dengan dering pesan,
dan hujan pertama jatuh di atas kota
seolah hendak mencuci debu dari ingatan.
September bukan sekadar pergantian cuaca.
Ia adalah jeda kecil untuk memahami
bahwa segala yang kita cintai pun sedang berubah bentuk.
Mataram boleh terus berlari,
lampu-lampu kota boleh menyala semakin terang,
tetapi akar tidak pernah benar-benar pergi—
ia tetap tumbuh diam-diam di bawah tanah,
menjaga jati diri agar tetap hidup
meski zaman berkali-kali mengganti wajahnya.